Budaya

Budaya lahir dari kebutuhan suatu masyarakat di suatu tempat. Budaya asing baik bagi orang asing di tempat kelahirannya. Budaya mereka merupakan jawaban atas kebutuhan mereka dalam hal bermasyarakat. Budaya kita merupakan jawaban atas persoalan-persoalan yang kita hadapi. Persoalan mereka adalah persoalan mereka, persoalan kita adalah persoalan kita.
Bila seorang asing datang dan menetap di negeri kita, dia harus bisa menyesuaikan diri dengan
budaya kita. Janganlah dia berusaha untuk mempengaruhi kita. Kita tidak perlu menyesuaikan diri dengan budaya mereka. Dia tidak perlu mengajar budaya kepada kita. Kita sudah berbudaya.
Membebani jiwa dengan sejarah masa silam, kemudian mempertahankan permusuhan antar kelompok yang pernah terjadi ribuan tahun yang lalu – ini bukan budaya Nusantara. Menggunakan agama sebagai alat pemecah-belah bangsa – ini bukan budaya kita. Membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan tertentu, walau tujuan itu merugikan kelompok lain – sudah jelas bukanlah perilaku “manusia asal” Indonesia.
Di balik aksi ekspor budaya budaya ke negeri kita, berbagai pihak di luar berupaya untuk menjajah jiwa kita, memperbudak “diri” kita. Untuk itu secara sistematis kita diajak untuk melupakan jati diri. Kita dihipnotis, dibuat percaya seolah-olah kita tidak mempunyai budaya asal. Seolah-olah kita belum berbudaya. Seolah-olah kita harus belajar budaya dari mereka. Kemudian agama pun dijadikan alat untuk menjajah jiwa kita. Sungguh munafik.
Sementara anda meneriakkan yel-yel anti Amerika dan menudingnya memiliki agenda terselubung, pernahkan anda berpikir bahwa bisa jadi ada kekuatan-kekuatan lain yang sama-sama memiliki agenda terselubung?
Saya tidak setuju dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Saya menolak ambisinya untuk menjadi pengawas dunia. Tapi saya pun tidak setuju dengan pihak-pihak lain yang ingin menguasai negeri kita dengan tipu muslihat.
Pernahkah anda berpikir bahwa Amerika masih memiliki simpanan minyak dalam jumlah yang tak terbayangkan oleh kita. Sementara itu untuk kebutuhan sehari-hari ia mengimpor terus. Simpanannya tidak diutak-utik. Pada suatu hari bila ia memutuskan untuk tidak mengimpor minya lagi dan menggunakan simpanannya – apa yang terjadi dengan mereka yang hidup dari hasil minyak?
Celakanya banyak pengekspor minyak yang tidak memiliki sumber daya alam lain. Air minum pun tidak. Yang mereka miliki hanyalah minyak, yang jelas tidak bisa diminum. Bila Amerika ingin menghancurkan ekonomi mereka, mungkin tidak membutuhkan lebih dari enam bulan.
Pernahkah terbayang bahwa pihak-pihak yang dapat dirugikan sewaktu-waktu itu mungkin juga memiliki agenda terselubung? Bukan hanya Amerika Serikat saja. Jelas tidak semua, tapi beberapa di antara penghasil minyak yang tidak memiliki mata penghasilan lain bisa jadi terlibat dalam berbagai aksi teror yang terjadi di negeri kita. Mereka menggunakan agama untuk membakar emosi umat yang merasa sudah beragama, kemudian diadu.
Kekacauan dan konflik antar anak bangsa yang diciptakan dengan menggunakan agama sebagai pemicu itu semata-mata untuk menghancurkan kesatuan dan persatuan kita sebagai bangsa, untuk melemahkan kita, supaya dapat dijajah dengan mudah. Cara dan gaya penjajahan jaman sekarang tentunya tidak sama dengan cara dan gaya tempo doeloe. Tidak perlu menaklukkan bangsa kita dengan pedang dan senapan. Hancurkan saja kesatuan dan persatuan kita, ciptakan kekacauan dan kegaduhan dimana-mana. Hancurkan ekonomi negara, ciptakan ketidakamanan. Kemudian, para pengacau itu akan datang sebagai Sinterklas, “Mau duit? Ini duit sekarung kubawakan untukmu sobatku, saudaraku… Tapi…
Embel-embel “TAPI” itu dapat memperbudak kita. Siapkah kita diperbudak? Tolak perbudakan oleh Amerika, tetapi tolak juga upaya-upaya perbudakan jiwa kita yang sudah berjalan tanpa kita sadari. Amerika bermain kasar… Tapi kekasarannya itu justru memudahkan kita. Kita bisa cepat-cepat menarik diri bila permainannya tidak menguntungkan kita. Kelompok kedua bermain halus, pakai kedok agama, budaya, amal saleh, bantuan dan sebagainya. Kehalusan mereka membuat kita terlena, hingga tidak sadar kalau mereka pun ada maunya.
Dengan belasan ribu pulau dan sumber alam yang begitu menjanjikan, siapa yang tidak akan tergiur melihat Indonesia? Lindungilah negeri ini dari mata jahat mereka. Mari kita lindungi kehormatan ibu pertiwi.
Hormati bangsa dan budaya asing, tapi janganlah anda melupakan budaya sendiri. Anda berhak menuntut rasa hormat sama dari mereka sebagaimana anda berikan kepada mereka. Tapi, jangan lupa: bila ingin dihargai orang lain, anda harus bisa menghargai diri sendiri. Di mana harga dirimu Manusia Indonesia? Anda letakkan dimana? Anda simpan di mana, anda tinggal di mana, anda lupakan di mana?
Setiap peraturan yang membatasi gerak-gerik manusia sesungguhnya merampas haknya untuk hidup sebagai manusia. Tentunya gerak-gerik yang kumaksud adalah gerak-gerik yang tidak mencelakakan orang lain. Manusia dilahirkan untuk berpikir bebas, dengan jiwa merdeka. Pendidikan bukan untuk membelenggu jiwanya, tapi justru membuatnya lebih bebas lagi.
Beberapa negara sahabat kita yang sejak dulu membatasi hak-hak perempuan pun sudah mulai menyadari hal itu. Dulu perempuan tidak diperkenankan melakukan perjalanan sendiri. Kemana-mana harus didampingi oleh orangtua laki, saudara laki atau suami. Jaman dulu peraturan seperti itu amat sangat masuk akal. Peraturan itu dibuat untuk melindungi perempuan. Sekarang sudah banyak perangkat serta penegak hukum yang dapat melindunginya. Hal ini disadari oleh beberapa negara sahabat, dan sekarang perempuan boleh memiliki paspor sendiri; juga boleh ikut pemilu. Walau baru terjadi, ini luar biasa, sesuatu yang harus kita hargai dan apresiasi.
Perempuan Indonesia justru sangat beruntung. Dalam banyak hal ia memiliki kebebasan yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan di belahan dunia lain. Ia sudah bebas, merdeka – janganlah anda merampas haknya untuk berdiri dan berkarya bersama-sama anak bangsa lain.
(Rahasia Alam, Alam Rahasia)

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here