Amarah

Ammarah (baca: ammaroh) adalah salah satu dari sekian banyak nafsu yang ada pada diri manusia. Adapun yang dimaksud dengan nafsu di sini ialah “jiwa”. Lain hal dalam arti ammarah secara harfiah ialah “mengajak” atau “menyuruh”. Dari pengertian tersebut berkembang menjadi makna yang istilahnya berkaitan dengan sifat hewan penghias etika jasmani manusia.
Nafsu Ammarah senantiasa mengajak akal-pikiran manusia untuk berangan-angan dengan iming-iming sarana; makan, minum, tidur dan bersenggama (jima’) yang serba mewah hingga mencapai taraf yang sesifat tusrifu (berlebihan). Bisikan nafsu tersebut akan tampak tidaknya diikuti oleh manusia terlihat jelas pada hal ikhwal perjalanan hidup manusia dalam mengarungi kehidupan di planet bumi.
Dinamakan Ammarah pada nafsu yang bersifat hewani ini karena sesuai firman Allahul ‘Azhim yang menyatakan :
WAMAA UBARRIU NAFSII INNAN NAFSA LA-AMMAARATUN BISSUU-I ….
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu (ammarah) itu selalu menyuruh kepada kejahatan ….” Surat Yusuf: Ayat 53 (12:53).
…ULAAIKA KAL AN’AMI BALHUM ADHALLU, ULAAIKA HUMUL GHAAFFILUUN.
“…Mereka itu sebagai (seperti) binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” Surat Al-A’raf” Ayat 179 (7:179).
Mengacu pada pengertian dua firman Allahul ‘azhim di atas hingga ke dirgantara ijtihad – mencari untuk memahami – tentang manifestasi Nafsu Ammarah, para pakar ahli syari’at batiniah alias kaum sufi telah merumuskan: “Nafsu Ammarah bila mendominasi manusia dapat dilihat tatkala berekskursi di pesisir organ jasmani manusia”. Adapun ikhwalnya sebagaimana layaknya sifat bangsa hewan ternak maupun buas – istilah Imam Ghazali dalam Ihya’nya “Bahimiyyah dan Sabu’iyyah”-.
Dua sifat itu – binatang ternak dan buas – mengalir dari jiwa sampai bah di daratan jasmani nan mengairi ladang moral hingga tumbuh benih tusrifu makan, minum, tidur, bersenggama dan tempat yang serba tidak Islami. Selanjutnya, berkembang pula “Hubbud dun-ya Wakarahatul Maut” (cinta dunia dan takut mati). Maka bila sudah berbunga Hubbud dun-ya Wakarahatul Maut, niscaya tidak mustahil akan sampai pada pembuahan: rakus, serakah dan tamak hingga ranum di pohon kemaksiatan yang beranting tahta, berdaun harta dan berlapiskan kulit wanita – selanjutnya apabila ada kalimat “wanita” pada buku ini dimaknakan “pasangan”-.
Setelah kita menyadari tentang Nafsu Ammarah yang berdomisili di jiwa manusia, janganlah keberadaannya menyebabkan kita masyful (susah hati/murung) karenanya.
Perlu difahami di sini wahai para salikin !
Bahwa, Allahu Rabbul ‘Alamin tidak pernah sia-sia dalam menciptakan sesuatu apapun, termasuk nafsu manusia beserta sifat-sifatnya.
Ammarah merupakan salah satu dari sekian banyak nafsu yang meliputi jiwa manusia, sekaligus mencorak akhlak disegala segi perbuatan manusia dengan warna sifat tusrifu. Ikhwalnya bisa terjadi bila Nafsu Ammarah telah menguasai dan mampu mengelabui akal pikiran manusia maka atas dasar dorongan nafsu itu akan tampak tabiat manusia yang senantiasa cenderung kepada kehidupan yang serba mewah, walaupun dalam mencapainya harus ditempuh dengan melanggar syari’at Islam sekalipun. Itulah cermin tabiat manusia yang berNafsu Ammarah. Berbahaya bukan?
Tetapi di sisi lain, Nafsu Ammarah sebagai pemelihara hidup organ jasmani, sekaligus mencorak perjalanan hidup manusia yang menjadi penghuni planet bumi. Keadaan tersebut sebagai bukti bahwa semua yang telah diciptakan Allahul Rabbul ‘Alamin tidaklah sia-sia. Sebagaimana fitrah manifestasi nafsu-nafsu yang meliputi manusia, seperti; ammarah, lawwamah, sawwalat, sawwiyah, muthmainnah, radhiyah dan mardhiyah, – Insya Allah nafsu-nafsu tersebut akan diuraikan pada bagian berikutnya– maka kami sarankan kepada para salikin (pembaca) untuk mengikutinya.. Baca dengan teliti, pahami, hayati dan praktekkan dengan Amalan shalih.
Apakah Nafsu Ammarah sebagai beban hidup manusia?
Tentu saja tidak! Sebab, Allahul ‘Adli tidak pernah memberi beban kepada setiap makhluk-Nya, baik dengan syari’at maupun sarana hidup lahir dan batin, yang sekiranya tidak mampu dipikul oleh setiap hamba-Nya. Demikian pula keberadaan Nafsu Ammarah yang bersemayam di dalam diri manusia. Jikalau memang ada, manusia yang dikuasai oleh Nafsu Ammarah serta merasa kewalahan untuk memeranginya, maka kejadian semacam itu bukan berarti Allahur Rahman memberikan beban terhadapnya. Sebab faktor masalahnya, adalah pada diri manusia yang kurang pandai dan bijak di dalam menempatkan dirinya sebagai khalifah fil ardh.
Berkaitan dengan uraian di atas, maka pada yang sebenarnya manusia dituntut untuk mengenal hakekat dirinya lahir maupun batin. Apabila seorang manusia telah mengenal dirinya secara kaffah (sempurna), niscaya tidak akan mudah tertipu oleh dirinya sendiri, karena musuh yang paling berbahaya dan pandai menipu adalah diri kita sendiri. Yang dimaksud dengan diri kita di sini ialah “nafsu fujur” (jiwa fasik) alias Nafsu Ammarah.
Lain lagi manusia yang tidak mengenal dirinya lahir maupun batin. Yang dapat kita bayangkan bahwa mereka akan terombang-ambing oleh badai tipuan Nafsu Ammarah yang membuat kestabilan hidupnya labil. Pun pula tidak terlepas dari tipu rayu setan penjuru dalam dirinya sendiri:
Yang membisikan alunan kata merdu
Janji fatamorgana berada
dalam tanda-tanda
selalu menunda
perintah sang Pencipta
nan menjanjikan pasti ada
pahala syurga di alam baka.
FAMAN YA’MAL MITSQAALA DZARRATIN KHAIRAAN YARAHU, WAMAN YA’MAL MITSQAALA DZARRATIN SYARRAAN YARAHU.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Surat Az Zalzalah” Ayat 7-8 (99:7-8).
by, angker ludiarto el bodasyah al awwam

Latest articles

Related articles

9 Comments

  1. Amarah hadir bukan untuk dimusuhi, tapi dikelola dengan baik. Bukan bila manusia tak memiliki amarah, maka ia tak kan pernah bisa melindungi dirinya, dan agamanya dari sesuatu yang merusak?
    salam kenal dari inhud…

      • WAMAA UBARRIU NAFSII INNAN NAFSA LA-AMMAARATUN BISSUU-I ….
        “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu (ammarah) itu selalu menyuruh kepada kejahatan ….” Surat Yusuf: Ayat 53 (12:53).
        …ULAAIKA KAL AN’AMI BALHUM ADHALLU, ULAAIKA HUMUL GHAAFFILUUN.
        “…Mereka itu sebagai (seperti) binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” Surat Al-A’raf” Ayat 179 (7:179).

  2. Setelah kita menyadari tentang Nafsu Ammarah yang berdomisili di jiwa manusia, janganlah keberadaannya menyebabkan kita masyful (susah hati/murung) karenanya.
    Perlu difahami di sini wahai para salikin !
    Bahwa, Allahu Rabbul ‘Alamin tidak pernah sia-sia dalam menciptakan sesuatu apapun, termasuk nafsu manusia beserta sifat-sifatnya.
    Ammarah merupakan salah satu dari sekian banyak nafsu yang meliputi jiwa manusia, sekaligus mencorak akhlak disegala segi perbuatan manusia dengan warna sifat tusrifu. Ikhwalnya bisa terjadi bila Nafsu Ammarah telah menguasai dan mampu mengelabui akal pikiran manusia maka atas dasar dorongan nafsu itu akan tampak tabiat manusia yang senantiasa cenderung kepada kehidupan yang serba mewah, walaupun dalam mencapainya harus ditempuh dengan melanggar syari’at Islam sekalipun. Itulah cermin tabiat manusia yang berNafsu Ammarah. Berbahaya bukan?
    ayookkk baca lagi

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here