Nama Nama Yang Dilarang Dalam Islam

Abkam = Tidak celik, buta
Abiqah = Hamba yang lari dari tuannya
Afinah = Yang bodoh
Asyar = Paling jahat
Asyirah = Yang tidak bersyukur atas nikmat
Amah = Hamba suruhan perempuan
Baghiah = Yang zalim, jahat
Bahimah = Binatang
Balidah = Yang bodoh, bebal
Bakiah = Yang menangis, merengek
Baqarah = Lembu Betina
Batilah = Yang batil, tidak benar
Dabbah = Binatang
Dahriyah = Yang mempercayai alam wujud dengan sendirinya
Dahisyah = Goncang, stress
Darakah = Kedudukan yang rendah
Daniyah = Yang lemah dan hina
Dami’ah = Yang mengalir air matanya
Fasidah = Yang rosak, yang binasa
Fasiqah = Yang jahat, si fasik
Fasyilah = Gagal, kalah
Fajirah = Yang jahat, yang berdosa
Faji’ah = Kecelakaan
Ghafilah = Yang lalai, yang leka
Ghailah = Kecelakaan, bencana
Ghaibah = Hilang
Ghasibah = Perampas, perompak
Ghamitah = Yang tidak mensyukuri nikmat
Ghawiah = Yang sesat, yang mengikut hawa nafsu
Haqidah = Yang dengki
Hasidah = Yang hasad
Hazinah = Yang sedih
Huzn = Kesedihan
Khabithah = Yang jahat, yang keji
Khali’ah = Yang tidak segan silu, mengikut hawa nafsu
Khati’ah = Yang bersalah, yang berdosa
Khasirah = Yang rugi
Khamrah = Arak
Jariah = Hamba suruhan perempuan
Jafiah = Yang tidak suka berkawan
Kaibah = Yang sedih
Kafirah = Yang kafir, yang ingkar
Kamidah = Yang hiba, yang sangat berduka
Kazibah = Pendusta, pembohong
Lahab = Bara api
Laghiah = sia-sia, tidak berfaedah
La’imah = Yang tercela
Lainah = Yang terkutuk
Lahifah = Yang sedih, menyesal dan dizalimi
Maridah = Yang menderhaka
Majinah = Yang bergurau senda tanpa perasaan malu
Majusiah = Agama menyembah api atau matahari
munafikah = Yang munafik
Musibah = Celaka, bencana, kemalangan
Nariah = Api
Nasyizah = Yang menderhaka dan melawan suami
Najisah = Yang najis dan kotor
Qabihah = Yang buruk, hodoh
Qatilah = Pembunuh
Qasitah = Yang melampaui batasan dan menyeleweng dari kebenaran
Qazurah = Kejahatan, perzinaan
Rajimah = Yang direjam, yang dilaknat
Razi’ah = Kecelakaan, musibah
Razilah = Yang keji dan hina
Sakitah = Yang jatuh, yang hina, yang jahat
Safilah = Yang rendah dan hina
Sahiah = Yang pelupa
Sakirah = Pemabuk
Syafihah = Yang bodoh
Syaridah = Yang diusir
Syaqiyah = Yang menderita
Syarrul Bariyyah = Sejahat-jahat manusia
Syani’ah = Yang buruk
Syarisah = Yang buruk akhlak
Syatimah = Maki hamun
Syariqah = Pencuri
Talifah = Yang rosak, yang binasa
Tarbiyah = Yang papa kedana
Tarikah = Anak dara tua
Tafihah = Karut
Talihah = Yang tidak baik
Yaisah = Yang berputus asa
Yabisah = Yang kering, yang sedikit kebaikannya
Wahinah = Penakut
Waqihah = Yang kurang sopan dan malu
Wasikhah = Yang kotor
Wasyiah = Yang mengumpat, yang mengadu dombakan orang
Wahimah = Yang lemah
Wahiah = Yang lemah, yang jatuh, yang buruk
Wajilah = Penakut
Wailah = Bencana, keburukan
Waqi’ah = Pertempuran dalam peperangan, umpatan
Zalijah = Kebinasaan
Zalilah = Yang hina
Zalimah = Yang zalim
Zaniyah = Penzina, pelacur
Zufafah = Racun pembunuh
by, akbargumelar

Latest articles

Related articles

18 Comments

  1. assalamualaikum wr wb buat pengasuh kampus samudra ilmu hikmah, izinkan saya nyanti di blog ini nama naufal adli, alamat medan. Trima ksh sebelumnya ki… mohon maaf atas segala kekurangan dan salam kenal buat santri yg ada di blog ini..

  2. Mbah tolong d share atau d ijazahin hizib magrobi cirebon tingkat 6, 7, 8 dan 9…kyanya asmak d tingkat ini sakral mpe orng yg punya aza gk mau babar..tanx

  3. Ibnu Athaillah As Sakandary
    Dzikir itu bermacam-macam. Sedangkan Yang Didzikir hanyalah Satu, dan tidak terbatas. Ahli dzikir adalah kekasih-kekasih Allah. Maka dari segi kedisiplinan terbagi menjadi tiga:
    Dzikir Jaly
    Dzikir Khafy
    Dzikir HaqiqiDzikir Jaly (bersuara), dilakukan oleh para pemula, yaitu Dzikir Lisan yang mengapresiasikan syukur, puhjian, pebngagungan nikmat serta menjaga janji dan kebajikannya, dengan lipatan sepuluh kali hingga tujuh puluh.Dzikir Batin Khafy (tersembunyi) bagi kaum wali, yaitu dzikir
    dengan rahasia qalbu tanpa sedikit pun berhenti. Disamping terus menerus baqa’ dalam musyahadah melalui musyahadah kehadiran jiwa dan kebajikannya, dengan lipatan tujuh puluh hingga tujuh ratus kali.
    Dzikir Haqiqi yang kamil (sempurna) bagi Ahlun-Nihayah (mereka yang sudah sampai di hadapan Allah swt,) yaitu Dzikirnya Ruh melalui Penyaksian Allah swt, terhadap si hamba. Ia terbebaskan dari penyaksian atas dzikirnya melalui baqa’nya Allah swt, dengan symbol, hikmah dan kebajikannya mulai dari tujuh ratus kali lipat sampai tiada hingga. Karena dalam musyahadah itu terjadi fana’, tiada kelezatan di sana.
    Ruh di sini merupakan wilayah Dzikir Dzat, dan Qalbu adalah wilayah Dzikir Sifat, sedangkan Lisan adalah wilayah Dzikir kebiasaan umum. Mananakala Dzikir Ruh benar, akan menyemai Qalbu, dan Qalbu hanya mengingat Kharisma Dzat, di dalamnya ada isyarat perwujudan hakikat melalui fana’. Di dalamnya ada rasa memancar melalui rasa dekatNya.
    Begitu juga, bila Dzikir Qalbu benar, lisan terdiam, hilang dari ucapannya, dan itul;ah Dzikir terhadap panji-panji dan kenikmatan sebagai pengaruh dari Sifat. Di dalamnya ada isyarat tarikanpada sesuatu tersisa di bawah fana’ dan rasa pelipatgandaan qabul dan pengungkapan-pengungkapan.
    Manakala qalbu alpa dari dzikir lisan baru menerima dzikir sebagaimana biasa.
    Masing-masing setiap ragam dzikir ini ada ancamannya.
    Ancaman bagi Dzikir Ruh adalah melihat rahasia qalbunya. Dan ancaman Dzikir Qalbu adalah melihat adanya nafsu dibaliknya. Sedangkan ancaman Dzikir Nafsu adalah mengungkapkan sebab akibat. Ancaman bagi Dzikir Lisan adalah alpa dan senjang, maka sang penyair mengatakan :
    Dialah Allah maka ingatlah Dia
    Bertasbihlah dengan memujiNya
    Tak layaklah tasbih melainkan karena keagunganNya
    Keagungan bagiNya sebenar-benar total para pemuji
    Kenapa masih ada
    Pengandaian bila dzikir-dzikir hambaNya diterima?
    Manakala lautan memancar, dan samudera melimpah
    Berlipat-lipat jumlahnya
    Maka penakar lautan akan kembali pada ketakhinggaan
    Jika semua pohon-pohon jadi pena menulis pujian padaNya
    Akan habislah pohon-pohon itu, bahkan jika dilipatkan
    Takkan mampu menghitungnya.
    Dia ternama dengan Sang Maha Puji
    Sedang makhlukNya menyucikan sepanjang hidup
    Bagi kebesaranNya.
    Perilaku manusia dalam berdzikir terbagi tiga:
    • Khalayak umum yang mengambil faedah dzikir.
    • Khalayak khusus yang bermujahadah
    • Khalayak lebih khusus yang mendapat limpahan hidayah.
    • Dzikir untuk khalayak umum, adalah bagi pemula demi penyucian. Dzikir untuk khalayak khusus sebagai pertengahan, untuk menuai takdir. Dan dzikir untuk kalangan lebih khusus sebagai pangkalnya, untuk waspada memandangNya.
    • Dzikir khalayak umum antara penafian dan penetapan (Nafi dan Itsbat)
    • Dzikir khalayak khusus adalah penetapan dalam penetapan (Itsbat fi Itsbat)
    • Dzikir kalangan lebih khusus Allah bersama Allah, sebagai penetapan Istbat (Itsbatul Istbat), tanpa memandang hamparan luas dan tanpa menoleh selain Allah Ta’ala.
    • Dzikir bagi orang yang takut karena takut atas ancamanNya.
    • Dzikir bagi orang yang berharap, karena inginkan janjiNya.
    • Dzikir bagi penunggal padaNya dengan Tauhidnya
    • Dzikir bagi pecinta, karena musyahadah padaNya.
    • Dzikir kaum ‘arifin, adalah DzikirNya pada mereka, bukan dzikir mereka dan bukan bagi mereka.
    • Kaum airifin berdzikir kepada Allah swt, sebagai pemuliaan dan pengagungan.
    • Ulama berdzikir kepada Allah swt, sebagai penyucian dan pengagungan.
    • Ahli ibadah berdzikir kepada Allah swt, sebagai rasa takut dan berharap pencinta berdzikir penuh remuk redam.
    • Penunggal berdzikir pada Allah swt dengan penuh penghormatan dan pengagungan.
    • Khalayak umum berdzikir kepada Allah swt, karena kebiasaan belaka.
    [pagebreak] Hamba senantiasa patuh, dan setiap dzikir ada yang Diingat, sedangkan orang yang dipaksa tidak ada toleransi.
    Tata cara Dzikir ada tiga perilaku :
    1. Dzikir Bidayah (permulaan) untuk kehidupan dan kesadaran jiwa.
    2. Dzikir Sedang untuk penyucian dan pembersihan.
    3. Dzikir Nihayah (pangkal akhir) untuk wushul dan ma’rifat.
    Dzikir bagi upaya menghidupkan dan menyadarkan jiwa, setelah seseorang terlibat dosa, dzikir dilakukan dengan syarat-syaratnya, hendaknya memperbanyak dzikir :
    “Wahai Yang Maha Hidup dan Memelihara Kehidupan, tiada Tuhan selain Engkau.”
    Dzikir bagi pembersihan dan penyucian jiwa, setelah mengamai pengotoran dosa, disertai syarat-syarat dzikir, hendaknya memperbanyak :
    “Cukuplah bagiku Allah Yang Maha Hidup nan Maha Mememlihara Kehidupan.”
    Ada tiga martabat dzikir :
    Pertama, dzikir alpa dan balasannya adalah terlempar, tertolak dan terlaknat.
    Kedua, dzikir hadirnya hati, balasannya adalah kedekatan, tambahnya anugerah dan keutamaan anugerah.
    Ketiga, dzikir tenggelam dalam cinta dan musyahadah serta wushul. Sebagaimana dikatakan dalam syair :
    Kapan pun aku mengingatMu, melainkan risau dan gelisahku
    Pikiranku, dzikirku, batinku ketika mengingatMu,
    Seakan Malaikat Raqib Kau utus membisik padaku
    Waspadalah, celaka kamu, dzikirlah!
    Jadikan pandanganmu pada pertemuanmu denganNya
    Sebagai pengingat bagimu.
    Ingatlah, Allah telah memberi panji-panji kesaksianNya padamu
    Sambunglah semua dari maknaNya bagi maknamu
    Berharaplah dengan dengan menyebut kebeningan dari segala yang rumit
    Kasihanilah kehambaanmu yang hina dengan hatimu
    Siapa tahu hati menjagamu
    Dzikir itu sendiri senantiasa dipenuhi oleh tiga hal :
    • Dzikir Lisan dengan mengetuk Pintu Allah swt, merupakan pengapus dosa dan peningkatan derajat.
    • Dzikir Qalbu, melalui izin Allah swt untuk berdialog dengan Allah swt, merupakan kebajikan luhur dan taqarrub.
    • Dzikir Ruh, adalah dialog dengan Allah swt, Sang Maha Diraja, merupakan manifestasi kehadiran jiwa dan musyahadah.
    Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kealpaan adalah kebiasaan dzikir yang kosong dari tambahan anugerah.
    Dzikir Lisan dan Qalbu yang disertai kesadaran hadir, adalah dzikir ibadah yang dikhususkan untuk mencerap sariguna.
    Dzikir dengan Lisan yang kelu dan qalbu yang penuh adalah ketersingkapan Ilahi dan musyahadah, dan tak ada yang tahu kadar ukurannya kecuali Allah swt.
    Diriwayatkan dalam hadits : “Siapa yang pada wal penempuhannya memperbanyak membaca “Qul Huwallaahu Ahad” Allah memancarkan NurNya pada qalbunya dan menguatkan tauhidnya.
    Dalam riwayat al-Bazzar dari Anas bin Malik, dari Nabi saw. Beliau bersabda :
    “Siapa yang membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” seratus kali maka ia telah membeli dirinya dengan surat tersebut dari Allah Ta’ala, dan ada suara berkumandang dari sisi Allah Ta’ala di langit-langitNya dan di bumiNya, “Wahai, ingatlah, sesungguhnya si Fulan adalah orang yang dimerdekakan Allah, maka barang siapa yang sebelumnya merasa punya pelayan hendaknya ia mengambil dari Allah swt .
    Diriwayatkan pula: “Siapa yang memperbanyak Istighfar, Allah meramaikan hatinya, dan memperbanyak rizkinya, serta mengampuni dosanya, dan memberi rizki tiada terhitung. Allah memberikan jalan keluar di setiap kesulitannya, diberi fasilitas dunia sedangkan ia lagi bangkrut. Segala sesuatu mengandung siksaan, adapun siksaan bagi orang arif adalah alpa dari hadirnya hati dalam dzikir.”[pagebreak]
    Dalam hadits sahih disebutkan:
    “Segala sesuatu ada alat pengkilap. Sedangkan yang mengkilapkan hati adalah dzikir. Dzikir paling utama adalah Laa Ilaaha Illalloh”.
    Unsur yang bisa mencemerlangkan qalbu, memutihkan dan menerangkan adalah dzikir itu sendiri, sekaligus gerbang bagi fikiran.
    Majlis tertinggi dan paling mulia adalah duduk disertai kontemplasi (renungan, tafakkur) di medan Tauhid. Tawakkal sebagai aktifitas qalbu dan tauhid adalah wacananya.
    Pintu dzikir itu tafakkur,
    Pintu pemikiran adalah kesadaran.
    Sedang pintu kesadaran zuhud.
    Pintu zuhud adalah menerima pemberian Allah Ta’ala (qona’ah)
    Pintu Qonaah adalah mencari akhirat.
    Pintu akhirat itu adalah taqwa.
    Pintu Taqwa ada di dunia.
    Pintu dunia adalah hawa nafsu,.
    Pintu hawa nafsu adalah ambisi.
    Pintu ambisi adalah berangan-angan.
    Angan-angan merupakan penyakit yang akut tak bias disembuhkan.
    Asal angan-angan adalah cinta dunia.
    Pintu cinta dunia adalah kealpaan.
    Kealpaan adalah bungkus bagi batin qalbu yang beranak pinak di sana.
    Tauhid merupakan pembelah, di mana tak satu pun bisa mengancam dan membahayakannya. Sebagaimana dinkatakan :
    “Dengan Nama Allah, tak ada satu pun di bumi dan juga tidak di langit yang membahayakan, bersama NamaNya. Dan Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
    Tauhid paling agung, esensi, qalbu dan mutiaranya adalah Tauhidnya Ismul Mufrad (Allah) ini, menunggalkan dan mengenalNya.
    Sebagian kaum ‘arifin ditanya mengenai Ismul A’dzom, lalu menjawab, “Hendaknya anda mengucapkan: Allah!”, dan anda tidak ada di sana.
    Sesungguhnya orang yang berkata “Allah”, masih ada sisa makhluk di hatinya, sungguh tak akan menemukan hakikat, karena adanya hasrat kemakhlukan.
    Siapa pun yang mengucapkan “Allah” secara tekstual (huruf) belaka, sesungguhnya secara hakikat dzikir dan ucapannya tidak diterima. Karena ia telah keluar (mengekspresikan) dari unsur, huruf, pemahaman, yang dirasakan, simbol, khayalan dan imajinasi. Namun Allah swt, ridlo kepada kita dengan hal demikian, bahkan memberi pahala, karena memang tidak ada jalan lain dalam berdzikir, mentauhidkan, dari segi ucapan maupun perilaku ruhani kecuali dengan menyebut Ismul Mufrad tersebut menurut kapasitas manusia dari ucapan dan pengertiannya.
    Sedangkan dasar bagi kalangan khusus yang beri keistemewaan dan inayah Allah swt dari kaum ‘arifin maupun Ulama ahli tamkin (Ulama Billah) Allah tidak meridloi berdzikir dengan model di atas. Sebagaimana firmanNya :
    “Dan tak ada yang dari Kami melainkan baginya adalah maqom yang dimaklumi.”
    Sungguh indah apa yang difirmankan. Dan mengingatkan melalui taufiqNya pada si hamba, memberikan keistemewaan pada hambaNya. Maka nyatalah Asmaul Husna melalui ucapannya dan dzikir pada Allah melalui dzikir menyebut salah satu AsmaNya.
    Maka, seperti firmanNya “Kun”, jadilah seluruh ciptaan semesta, dan meliputi seluruh maujud.
    Siapa yang mengucapkan “Allah” dengan benar bersama Allah, bukan disebabkan oleh suatu faktor tertentu, namun muncul dari pengetahuan yang tegak bersamaNya, penuh dengan ma’rifat dan pengagungan padaNya, disertai penghormatan yang sempurna dan penyucian sejati, memandang anugerah, maka ia benar-benar mengagungkan Allah Ta’ala, benar-benar berdzikir dan mengagungkanNya dan mengenal kekuasaanNya.
    Sebab, mengingat Allah dan mentauhidkanNya adalah RidloNya terhadap mereka bersamaNya, sebagaimana layakNya Dia Yang Maha Suci.
    Ma’rifat itu melihat, bukan mengetahui. Melihat nyata, bukan informasi. Menyaksikan, bukan mensifati. Terbuka, bukan hijab. Mereka bukan mereka dan mereka tidak bersama mereka dan tidak bagi mereka. Sebagaimana firmanNya :
    “Nabi Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya.” (Az-Zukhruf: 59)
    “Dan jika Aku mencintainya, maka Akulah Pendengaran baginya, Mata dan tangan dan Kaki baginya.”
    Bagiamana jalan menuju padaNya, sedang ia disucikan
    Dari aktivitas keseluruhan dan bagi-bagi tugas?
    Demi fana wujud mereka, karena WujudNya
    Disucikan dari inti dan pecahan-pecahannya?
    Tak satu pun menyerupaiNya, bahkan mana dan bagaimana
    Setiap pertanyaan tentang batas akan lewat
    Dan diantara keajaiban-keajaiban bahwa
    WujudNya di atas segalanya dan sirnanya pangkal penghabisan

  4. Wadaaoooh neh komentar apa nulis buku..
    Hakekat dzikirnya jg tulis donk biar lengkap biar gak terkesan egois masak dzikir cuman buat kebaikan diri pribadi doank bkn utk sekalian alam, biar anak, istri, saudara jg para tetangga, temen, sesuku, sebangsa, setanah air pun sekalian alam kebagian sejuknya. Itulah insanul kamil..

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here